Jumat, 10 Februari 2017

Tugas Bahasa Indonesia: Membuat Hikayat

Ini adalah tugas Saia yang, sedikit telat,,, mungkin sangat, sangat, telat, banget (full dah pemborosan katanya). Mungkin ini sudah tidak bisa diterima lagi karena waktu pengumpulan yang benar-benar sudah lewat, tetapi daripada tidak sama sekali. 

Kakek dan Ular

Pada zaman dahulu, tersebutlah ada seorang kakek yang cukup disegani. Ia bertinggal di dekat istana Kerajaan Leru yang pimpinannya ialah Baginda Raja Leru VII. Si kakek dikenal takut kepada Allah, gandrung pada kebenaran, beribadah wajib setiap waktu, menjaga salat lima waktu dan selalu mengusahakan membaca Al-QurĂ¢'an pagi dan petang. Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer. Ia punya banyak hal yang menyebabkannya tetap mampu menjaga potensi itu. Sejikanya baginda Raja Leru VII memiliki soalan sulit,  sesungguhnya Baginda pastinya akan mencari si kakek guna mendapat bantuan.

Suatu hari, si kakek sedang duduk di belakang rumahnya menatap langit sore sembari tangan kanannya memegang tasbih yang senantiasa berputar setiap waktu di tangannya. Tiba-tiba seekor ular besar menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Rupanya, ular itu sedang mencoba menghindar dari kejaran seorang raksasa penjaga yang terkenal cukup kejam dari kerajaan sebelah.

"Kek," panggil ular itu benar-benar memelas, "kakek kan terkenal suka menolong. Tolonglah saya, selamatkanlah saya agar tidak dibunuh oleh raksasa yang sedang mengejar saya itu. Ia pasti membunuh saya begitu berhasil menangkap saya. Tentunya, kamu baik sekali jika mau membuka mulut lebar-lebar supaya saya dapat bersembunyi di dalamnya. Demi Allah, saya mohon, kabulkanlah permintaan saya ini." 

"Ulangi sumpahmu sekali lagi," pinta si kakek. "Takutnya, setelah mulutku kubuka, kamu masuk ke dalamnya dan selamat, budi baikku kamu balas dengan keculasan. Setelah selamat, jangan-jangan kamu malah mencelakai saya."

Ular mengucapkan sumpah atas nama Allah bahwa ia takkan melakukan itu sekali lagi. Usai ular mengucapkan sumpahnya, kakek pun membuka mulutnya sekira-kira dapat untuk ular itu masuk. Sejurus kemudian, datanglah si raksasa dengan tombak di tangan. Ia menanyakan keberadaan ular yang hendak dibunuhnya itu. Kakek mengaku bahwa ia tak melihat ular yang ditanyakannya dan tak tahu di mana ular itu berada. Tak berhasil menemukan apa yang dicarinya, raksasa itu pun pergi. Setelah raksasa itu berada agak jauh, kakek lalu berbicara kepada ular: "Kini, kamu aman. Keluarlah dari mulutku, agar aku dapat pergi sekarang." Ular itu hanya menyembulkan kepalanya sedikit, lalu berujar: "Hmm, kamu mengira sudah mengenal lingkunganmu dengan baik, bisa membedakan mana orang jahat dan mana orang baik, mana yang berbahaya bagimu dan mana yang berguna. Padahal, kamu tak tahu apa-apa. Kamu bahkan tak bisa membedakan antara makhluk hidup dan benda mati. Buktinya kamu biarkan saja musuhmu masuk ke mulutmu, padahal semua orang tahu bahwa ia ingin membunuhmu setiap ada kesempatan. Sekarang kuberi kamu dua pilihan, terserah kamu memilih yang mana; mau kumakan hatimu atau kumakan jantungmu? Kedua-duanya sama-sama membuatmu sekarat." Kontan ular itu mengancam.

"La haula wa la quwwata illa billahi al`aliyyi al-`azhim [tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi dan Agung] (ungkapan geram), bukankah aku telah menyelamatkanmu, tetapi sekarang aku pula yang hendak kamu bunuh? Terserah kepada Allah Yang Esa sajalah. Dia cukup bagiku, sebagai penolong terbaik." Sejurus kemudian kakek itu tampak terpaku, shok dengan kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya, perbuatan baiknya berbuah penyesalan.
Kakek itu akhirnya kembali bersuara, "Sebejat apapun kamu, tentu kamu belum lupa pada sambutanku yang bersahabat. Sebelum kamu benar-benar membunuhku, izinkan aku pergi ke suatu tempat yang lapang. Di sana ada sebatang pohon tempatku biasa berteduh. Aku ingin mati di sana supaya jauh dari keluargaku." Ular mengabulkan permintaannya. Namun, di dalam hatinya, orang tua itu berharap, "Oh, andai Tuhan mengirim orang pandai yang dapat mengeluarkan ular jahat ini dan menyelamatkanku."

Setelah sampai dan bernaung di bawah pohon yang dituju, ia berujar pada sang ular: "Sekarang, silakan lakukanlah keinginanmu. Laksanakanlah rencanamu. Bunuhlah aku seperti yang kamu inginkan." Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang mengalun merdu tertuju padanya:
"Wahai Kakek yang baik budi, penyantun dan pemurah. Wahai orang yang baik rekam jejaknya, ketulusan dan niat hatimu yang suci telah menyebabkan musuhmu dapat masuk ke dalam tubuhmu, sedangkan kamu tak punya cara untuk mengeluarkannya kembali. Cobalah engkau pandang pohon ini. Di belakang pohon ini sesungguhnya terdapat sebuah gentong sakti, ambillah gentong itu dan arahkan ke mulutmu, niscaya ular itu akan menghilang dari dalam tubuhmu." Kakek itu lalu mengambil gentong yang dimaksud dan mengarahkan mulut gentong tersebut ke mulutnya. Sejurus kemudian, si kakek merasakan ular dalam tubuhnya tertarik ke dalam gentong yang Ia arahkan ke mulutnya. Tak lama setelahnya si ular telah hilang sepenuhnya dari tubuh kakek. Kakek lalu merasakan gentong tersebut bergetar hebat lantas Ia meletakkan kembali gentong itu. Tak lama setelahnya, gentong itu memancarkan cahaya hebat kemudian hancur berkeping-keping. Kakek menghindar sekuat tenaga menghindari pecahan-pecahan gentong namun beberapa luka tak dapat terelakkan. Setelah kejadian mengejutkan tersebut, si kakek melihat seorang anak lelaki manis terduduk lemas di tempat gentong tadi hancur. Kakek pun mendatanginya dan bertanya "siapakah gerangan dirimu wahai anak manis, dan mengapa kamu ada di sini?" Si anak kemudian menjawab "Aku adalah jelmaan ular yang tadi hendak membunuh kakek. Maafkan aku, aku sangat takut Kek. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membuatku merasa aman selain membunuh orang-orang. Tetapi, Engkau membebaskanku Kek, terimakasih." Si kakek lalu berkata "Wahai anak yang manis, aku tahu Engkau sesungguhnya memiliki hati yang baik, Engkau bukanlah anak yang jahat. Kemarilah, ikutlah dan tinggallah bersama kakek. Niscaya kakek akan melindungimu dari segala macam masalah." Walakhir, si anak dan si kakek hidup bersama dalam kebahagiaan.
TAMAT

Demikianlah hikayat yang telah saya buat. Sebenarnya, hanya revisi sih. Cerita aslinya dapat teman-teman liat di,,,,,
http://karyacombirayang.blogspot.co.id/2015/11/10-contoh-hikayat.html
cerita aslinya ada di nomor 7

Semoga bermanfaat:))))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tugas Bahasa Inggris

Little Girl and Her Dog The story began in the evening. The bowl was full. Until the evening the bowl was still at its place. It didn’t ...